menerima rasa kabung

Setelah hari-hari kematian itu, rasanya jiwaku masih tertinggal disana; di rumah yang penuh dengan gemuruh riuh tapakan kaki orang-orang yang sedang menyiapkan sang mayit. tatapan kosong yang masih terekam di depan keranda. raga yang separuh lumpuh menahan kenyataan pahit yang mau tidak mau harus kutelan seorang diri.

Setelah hari-hari kematian itu, aku masih memaksa kakiku untuk tetap merangkak, berdiri, dan berjalan. aku masih memaksa tersenyum kalau-kalau aku bersembunyi untuk menangis. aku masih terus mencari titik cahaya kecil yang sering kusebut harapan; untuk terus menyusuri sisa kehidupanku yang rupanya bisa jadi masih panjang. 

Setelah hari-hari kematian itu, aku menyadari bahwa mereka tak benar-benar pergi. mereka menyelinap ke dalam bahasa-bahasa kecil yang tak kusadari; pada caraku menata meja makan, pada nada suaraku yang tanpa sengaja menyerupai mereka, pada diamku yang ternyata mewarisi cara mereka menanggung luka.

dan barangkali, di situlah keabadian bekerja. bukan dengan menahan waktu, melainkan dengan menjelma dalam serpihan-serpihan kecil yang tak akan pernah usai kutemukan

Setelah hari kematian itu, aku bertanya bagaimana jika aku giliran setelahnya.

Komentar

Postingan Populer