Kematian yang Direncanakan
Dahulu, aku tidak pernah belajar bab dewasa. tidak pernah kudengar bahwa menjadi dewasa adalah bagian paling sulit. kemudian masa membawaku membuktikannya. benar, sulitnya hidup tidak bisa dibandingkan dengan sulitnya memasukkan benang kedalam lobang jarum. akhir-akhir ini pertanyaan "makan apa hari ini" menjadi pembuka hari. akhir-akhir ini pula tujuan bangun tidurku setelah sarapan adalah menamatkan beberapa list film yang sudah kucatatat untuk ku tonton. mengisi hari dengan tetap sibuk agar tetap hidup. begitulah, sepotong pesan dari salah satu tokoh dalam film.
Bagiku, tetap hidup adalah sebuah keharusan, bahkan jika ada nominasi untuk orang-orang pejuang dalam bertahan hidup, aku ingin menjadi salah satunya. sebab, banyak yang ingin bebas dari aturan semesta tanpa tahu bahwa kebebasan tidak pernah ia dapat dimanapun. bayangkan saja jika mati dalam lilitan tali yang menggantung, atau sayatan lebar pada nadi dan denyut leher, atau mungkin sengaja menelan yang seharusnya tidak tertelan. meskipun semua itu mungkin untuk dilakukan. tapi, setelah tanggung jawab membawa raga telah habis, masih ada jiwa yang meminta haknya untuk tenang. kira-kira sampai situ saja ilmuku tentang kematian yang direncanakan. tidak sejauh itu rasa percaya diriku menghadap Tuhan dengan sengaja. sedang dengar adzan saja masih memberi jarak untuk bersuci. membawa kumpulan hasil baiknya hidup saja mungkin tidak seberapa, lantas aku bertanya, “bagaimana bisa mencari tenang dalam kematian yang direncanakan?”
Komentar
Posting Komentar